"ATM" buat Kesuksesan Hidup
Bekas Menteri Pendidikan serta Kebudayaan (Mendikbud) di tahun 1970-an, Prof. Daoed Joesoef sempat menulis di Kompas, "jika pembangunan (fisik manusia, mental, infrastruktur, dan lain-lain) bukan diawali pada alat atau fasilitas (Means), tetapi arah atau keuntungan (Aim). Arti ungkapannya, "Aim first, then Means" (arah pertama, selanjutnya beberapa alat/fasilitas-sarana), yang dipersingkat ATM.
| Melatih Ketangkasan Merumus Togel |
ATM dalam tulisan ini, tidak sama dengan arti sehari-harinya, anjungan tunai mandiri. Yang dengan bahasa aslinya (Inggris), automatic teller machine. Dalam tulisan ini, ATM ialah Aim first, Then Means. Tetapkan arah pertama kali, selanjutnya baru tentukan perlengkapan-peralatannya. Jelas ya.
Yuk, silahkan kita teruskan dengan beberapa contoh simpel.
Contoh pertama. Kita ingin ke kota Pontianak (aim), karena itu means yang ada ada dua saja: (1) naik Pesawat atau (2) naik kapal. Bukanya ke Gambir, membeli ticket, lalu naik kereta. Tentulah, orang yang mengetahui kita ingin ke Pontianak akan katakan, "anjay, betul-betul pintar".
Contoh ke-2. Kita dengan maksud mengepel lantai rumah yang kotor (aim). Karena itu, alat/fasilitasnya (means) ialah sapu, ember, air, sabun serta pel. Bukan memakai gergaji, palu atau cangkul. Meskipun beberapa barang itu telah ada di gudang, pasti tidak kita gunakan, sebab malah akan menghancurkan lantai.
Dari dua contoh di atas, benar-benar gampang untuk dimengerti bagaimana nalar kerja untuk sukses. Lucunya, dalam sehari-harinya seringkali kita mendapatkan beberapa hal berlawanan dengan ide ATM. Mengakibatkan, aspek karier, keluarga, serta pendidikan banyak yang menjadi amburadul.
ATM Faktor Pendidikan.
Seandainya arahmu ingin jadi Pilot, karena itu jangan sekolah di fakultas Kedokteran. ATM-nya benar-benar tidak pas. Ini ialah contoh yang ekstrim.
Ada sekolah penerbang (pendidikan Pilot) di Curug, Banten; di Bandung, Jawa Barat; di Banyuwangi, Jawa Timur; dan di Bali. Itu fasilitas-sarana serta perlengkapan-peralatan (means) untuk capai arah (aim).
Kembali lagi ke pendidikan penerbang. Semua paham jika pendidikan pilot ongkosnya mahal. Rekan Penulis menceritakan seputar Rp. 600 - 800 juta habis buat pendidikan anaknya, semasa tiga tahun. Akan tetapi, banyak yang masih tetap memiliki pendapat sesudah kerja nanti, duitnya dapat balik dalam 4-5 tahun. Tapi, ide itu berlaku cuma seputar tahun 1980-2000an.
